Latest News
Tuesday, September 28, 2021

Vaksin dan Hukum Fiqihnya

Webinar : Summary Webinar dan FGD “Rumor about Vaccines”


cianjurpost.com - Untuk mencegah rumor yang tidak benar dalam vaksinasi, Poros Sahabat Nusantara, Lembaga Kesehatan PWNU DKI Jakarta, Tirto.id, dan Badan Nasional Penangulangan Bencana (BNPB) adakan Fokus Grup Diskusi. Minggu (26/0921).

Dalam diskusi tersebut, Ketua Lembaga Kesehatan PWNU DKI Jakarta  Muhammad Arif, mengatakan vaksinasi corona virus adalah suatu usaha dari pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan untuk dapat melindungi masyarakat untuk dapat melakukan vaksinasi.

"Vaksinasi sangat penting untuk kita terlindungi dari infeksi corona virus dimasa pandemi ini. Vaksinasi adalah pemberian antigen yang dapat merangsang pembentukan antibodi sistem imun di dalam tubuh," ungkap dokter Arif dalam sesi penyamapian webbinar.

Dokter Arif juga membeberkhan, prosedur vaksinasi yang benar akan diperoleh kekebalan yang optimal. Alur pendaftaran vaksin diantaranya, pertama pendaftaran dan verifikasi data. Kedua skrining dan pemeriksaan fisik.

"Jika pada pemberian vaksin dosis pertama ada keluhan yang serius, seperti alergi, maka harus ditunda dahulu," katanya.

Selanjutnya, masih kata Dokter Arif, tahap ketiga, pemberian vaksin bagi peserta yang lolos proses skrining. Dan ke empat Observasi dan pencatatan. "Peserta diminta untuk menunggu 30 menit dan diberikan kartu vaksinasi," ungkapnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan, ada reaksi setelah vaksin, seperti demam, nyeri sendi, dan lain-lain, menurutnya semua itu sebenarnya bisa diatasi dengan obat-obatan standar bahkan tidak minum obat juga tidak apa-apa, cukup istirahat saja. 

Dokter Arif membeberkan capaian vaksinasi dosis 1 untuk wilayah DKI Jakarta yang sudah mencapai 80 persen  sedangkan dosis 2, sudah mencapai 60 persen. Namun jika berbicara capaian Indonesia, katanya cakupan masih kurang, yakni 40,82 persen untuk dosis pertama dan vaksin kedua 22, 94 persen. "Vaksinasi remaja untuk cakupan nasional juga masih rendah," ucapnya.

Semntara itu, Wakil Sekretaris LBM NU, KH Mahbub Ma’afi mengatakan, vaksinasi dan vaksin dalam perspektif hukum fikih itu jelas sesuatu yang berbeda, karena berbeda inilah maka memiliki konsekuensi hukum yang berbeda pula. 

"Harus diakui bahwa memang dikalangan masyarakat kita itu ada kelompok-kelompok yang anti vaksin dan ada kelompok yang menerima vaksin," ungkapnya. 

Untuk masyarakat yang masih ragu akan covid-19 katanya, yang harusnya menjadi rujukan adalah para dokter dan para pakar atau ahli kesehatan, karena faktanya covid-19 memang berbahaya bagi tubuh dan merupakan ancaman bagi tatanan kehidupan dunia.

"Pandemi ini telah mengubah cara berpikir kita, dari yang tadinya kita bias bertemu secara langsung, tiba-tiba berubah menjadi pertemuan online. Salah satu cara yang ditawarkan untuk menanggulangi pandemi ini adalah dengan cara menciptakan kekebalan kolektif. Cara ini diyakini bisa menanggulangi penyebaran virus yang terus berkembang luas," papar Kiayi Mahbub Ma’afi. 

Selain itu, Dia pun menjelaskan, dalam hukum fikih, vaksinasi hukumnya adalah mubah, namun dalam situasi pandemic seperti ini, menurutnya perlu menciptakan kekebalan komunal atau kekebalan kelompok, yang paling efektif adalah melakukan vaksinasi. 

"Dalam konteks ini vaksinasi itu bisa menjadi sesuatu kewajiban, karena tujuan daripada vaksin ini adalah menjaga kesehatan kita dan untuk menciptakan kekebalan kolektif agar kita semua bisa selamat dari ancaman bahaya virus covid-19," tandasnya.

Sementara Ketua Umum DPP Poros Sahabat Nusantara (POSNU), Elina Dian Karmila mengatakan, dari hasil survei yang dilakukan oleh lembaganya, ketakutan masyarakat menghadapi vaksin Sebagian besar dikarenakan takut efek samping pasca vaksin, seperti yang beredar dimasyarakat, itu tidak sesuai dengan fakta.

"Faktanya, lebih dari 50 persen tidak ada efek samping dan 25 persen yang mengalami nyeri dibekas suntikan. Lebih dari 50 persen masyarakat memiliki kesadaran untuk vaksin dengan alasan agar lebih kebal terhadap virus Covid19," paparnya.

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Vaksin dan Hukum Fiqihnya Rating: 5 Reviewed By: Cianjur post