Latest News
Saturday, August 14, 2021

Tertawa dalam derita sendiri

Oleh : Ismat Nasrulloh



cianjurpost.com - Titik balik dalam kehidupan, memang cukup membingungkan. Jika kita telaah banyak orang yang bingung mencari arti dan nilai kehidupannya. Ada pertanyaan sederhana yang juga cukup pusing untuk kita jawab, "apa tujuan hidup mu? Dalam arti sempit agak bingung kita jawab.


Kita sedang hidup di zaman yang juga cukup bingung. Tak ada seorang pun yang merasa tentram dalam hidupnya. Contoh pedagang teriak-teriak karena tak bisa jualan, guru teriak-teriak karena tak bisa mengajar, mahasiswa apalagi, bingung nyari pendapat atau pendapatan. Kaum buruh, katanya tak sejahtera, walau sudah bisa kredit kendaraan.


Apa lagi petani yang dari dahulu sudah teriak-teriak karna lahannya terus berkurang, sumber air berkurang, alhasil petani tak pernah sedikitpun mendapat untung dalam bertani.


Disudut meja, banyak orang berebut kursi, padahal kursi itu buatan petani, padahal tinggal petaninya diberi untung, pasti kursi akan tersedia. 


Sekarang bukan zaman firaun, yang semua keinginannya harus dipenuhi. Katanya sih, sekarang sudah era dimana kemerdekaan itu sudah genap 76 tahun. Sejak bapak bangsa memproklamirkan kemerdekaan indonesia. Bahkan sudah berganti-ganti tampuk kekuasaan. 


Kekuasaan boleh saja berganti terus, pemilihan dari kepemiminan pusat, provinsi, daerah, bahkan kepala desa terus berganti wajah, aturan pun terus berganti dalih. Alih-alih demokrasi, dan kepemimpinan diambil suar terbanyak. Nyatanya yang punya suara hanya terus bercuap, tak pernah mendapatkan kesejahteraan.


Katanya teknologi semakin maju, tapi yang gaptek tak bisa mendapatkan teknologi yang dimaksud. Tetap saja yang gak bisa bawa motor, bisanya ngojek. Nenekmoyang mu juga tahu itu. Yang gak punya kuda, ya naek kuda orang. Caranya saja yang beda.


Penyakit menjadi-jadi, padahal bukan penyakit bawaan. Yang ada penyakit sosial meradang. Salah kita sendir gak nurut sama embah mu, lebih nurut, sama embahnya googel. Teknologinya yang maju, atau otak kita yang dungu. Pintar-pintar memainkan peran, itu jawabannya. Alhasil teori lama yang lahir, artinya nilai kehidupan tidak ada yang rubah. Kita saja yang menjauh dari itu.


Ya sudahlah, sesali saja apa yang sudah terjadi, kalo kita menyesal wajar. Karna kita pasti memperbaiki tabeat. Kita lihat panggung atraksi saja. 

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Tertawa dalam derita sendiri Rating: 5 Reviewed By: Cianjur post