Latest News
Friday, July 19, 2019

Oposisi Menciptakan Kebohongan


Komunitas Cianjur Intellectual Foundation adakan Forum Silaturahmi Tokoh (FST) Kebangsaan yang digelar di salahasatu cafe di bilangan Cianjur, Jumat (19/7/19).

Acara tersebut dimaksud memberikan pemahaman yang subtantif terhadap realitas yang sedang terjadi dinegara kita ini pasca ditetapkannya pemenang pemilu 17 April lalu.

Direktur CIF, Fardan Abdul Basith mengungkapkan diperlukan show up post para tokoh kebangsaan untuk meleras polemik pasca pemilu terlama sepanjang sejarah demokrasi diindonesia.

"tokoh kebangsaan disini dimaksudkan mampu memberikan sikap kebijaksanaan bagi kalangan msyarakat bawah yang perlu diantisipasi munculnya bahawa radikalisme dan Hoax dalam informasi khususnya dimedia shosial, sehingga kami merasa tergugah untuk melaksanakan agenda kegiatan Forum Silaturahmi Tokoh Kebangsaan di Kabupaten Cianjur," Ungkapnya.

Selanjutnya dia memaparkan beberapa Narasumber dari beberapa Tokoh Kebangsaan di daerah, yaitu dari Bakesbangpol Kab.Cianjur, Tokoh Muda NU Kab Cianjur, dan Diskominfo Cianjur.

"kegiatan yang bertemakan “Tegakan Demokrasi Selamatkan Bangsa dari Radikalisme Serta Hoax” mempunyai latar belakang dari terselenggaranya Kegiatan Tersebut berlandaskan dari mencuatnya issue-issue populis yang beredar dimasyarakat pasca putusan MK terkait Sengketa pilpres 2019 serta tumbuhnya berita setelah  Rekonsiliasi Capres-Cawapres yang ikut serta dalam pesta demokrasi 2019," paparnya.

Lebih dari itu menurutnya, munculnya narasi oposisi beserta para relawan politiknya juga melakukan upaya lain agar citra positif dan kepercayaan rakyat kepada pemerintahan Jokowi tergerus sampai titik terendah.

"Rakyat dibuat tidak percaya dan membenci pribadi Jokowi dan  pemerintahannya pasca selesainya tahapan pemilu," tandasnya.

Namun demikian pihaknya menilai para pihak berkepentingan tetap menggiring arus masyarakat melalui, pihak oposisi bersama relawan politiknya gencar membuat narasi-narasi negatif tentang pribadi Jokowi dan pemerintahannya. Mereka ciptakan kebohongan demi kebohongan berupa isu-isu atau pernyataan tidak didasarkan data valid.

"Mereka menyebarkan beragam informasi hoaks, kebencian dan fitnah melalui berbagai media, terutama media sosial (medsos) seperti facebook, WA, instagram, you tube, blog, dan lain sebagainya dengan maksud mencuci otak rakyat. Rakyat dibuat percaya kebohongan itu, heboh, resah dan saling curiga antar elemen masyarakat," lanjutnya.



Fenomena ini menurutnya yang kini dikenal dengan istilah strategi Firehose of Falsehood atau strategi “Propaganda Rusia”. Pihak oposisi sangat paham, hampir sebagian besar masyarakat memiliki gawai (smartphone) dan menjadi penggiat media sosial. Dengan gawai itu narasi negatif atau informasi hoaks bisa langsung sampai pada setiap individu pemegang smartphone tersebut.

"Media sosial yang tadinya merupakan ruang interaksi dan silaturahmi antar individu dan komunitas berubah menjadi ruang dokrin, penyebaran kebencian, narasi negatif serta tempat “perkelahian” antar warga. Media sosial menjadi tempat persemaian bibit perpecahan rakyat dalam berbangsa dan bernegara," ungkapnya.

Keberlangsungan kehidupan rakyat menurutnya harus dijawab dengan kepastian, akan bermuara kemana kehidupan rakyat bila perseteruan politik seperti itu terus belanjut? Bagaimana cara memulihkannya?
Fungsi oposisi sejatinya sebagai penyeimbang demokrasi. Dalam operasionalnya, oposisi memberikan kritik solutif atau masukan kepada pemerintahan yang berkuasa.

Namun seringkali yang terlihat di ruang publik, oposisi menciptakan kebohongan untuk mempengaruhi rakyat agar tidak mempercayai pemerintahan yang sedang berkuasa. Mereka bertindak seperti preman politik yang tak perduli efek jangka panjang yang bakal timbul.

Dia berharap, rakyat akan mengalihkan kepercayaan dari pemerintahan Jokowi kepada oposisi tersebut untuk jadi pemimpin negeri ini. Persoalan besar sekarang bukan lagi pada penjatuhan kepercayaan rakyat kepada pemerintahan Jokowi, melainkan rusaknya tradisi kebersamaan dan saling memahami antar pribadi dan elemen masyarakat yang sudah lama terbentuk di dalam kehidupan masyarakat. Kerusakan itu sangat berat. Ibarat tubuh, yang rusak adalah bagian dalam. Butuh waktu lama untuk penyembuhan.

"Siapa pun pemimpin yang terpilih tidak bisa langsung memulihkan kerusakan itu seperti sediakala. Persoalannya adalah entitas elit politik dengan rakyat awam sangat berbeda, baik dalam dinamika, maupun daya resiliensi (resilience)," tutupnya.


  • Blogger Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Oposisi Menciptakan Kebohongan Rating: 5 Reviewed By: Cianjur post