Latest News
Thursday, June 20, 2019

Demokrasi Untuk Rakyat. Bukan Ajang Adu Gengsi Elit.

Oleh : Dede Abdulatif S.IP,.
Pengurus PMII Cianjur


Hampir dua dekade terakhir di hitung sejak reformasi 1998, dikutif dalam buku ke-3  “Demokratisasi Desa” Perhatian publik terarah pada system perjalanan demokrasi ditingkat nasional.

Sementara di masyarakat paling bawah, demokrasi belum menjadi agenda yang menonjol baik dalam regulasi maupun dalam proses politik riil.

Masyarakat desa misalnya, sejauh ini hanya dilibatkan dalam perhelatan-perhelatan demokratis daerah maupun nasional, seperti dalam pemilu, pemilukada langsung atau menjadi objek pengaturan dalam otonomi daerah.

Perhelatan-perhelatan tersebut tentu memiliki maksud dan tujuan tersendiri yang tak kalah penting, yaitu sebagai perwujudan demokrasi dalam politik nasional.

Penumbuhan kesadaran dan pembelajaran demokrasi membutuhkan upaya yang lebih massif dan langsung menyentuh kehidupan masyarakat Desa, diantaranya melalui demokratisasi desa.

Mengapa demokratisasi penting? satu pertanyaan ini mewakili gambaran umum pada tulisan ini.

Desa sebagai arena bagi demokrasi serta prinsif-prinsif demokrasi yang harus dikembangkan di desa, kerangka kerja demokrasi desa dan peran pendamping dalam demokrasi desa. Demokratisasi desa merupakan frase tersendiri yang sengaja dibedakan dengan demokratisasi di desa.

Demokratisasi desa setidaknya harus memperhatikan empat hal . Pertama, hubungan-hubungan sosial yang ada di desa terbangun dari pergaulan sosial secara personal antar sesama penduduk. 

Kedua hubungan desa dengan ruang juga berlangsung dengan intensitas yang sangat tinggi. Bagi desa, tanah dan ruang yang mereka tinggali bukan semata-mata ruang mati.

Ketiga, kehidupan desa bukan berlangsung sebagai kumpulan manusia yang berhubungan secara kontraktual dan formal, melainkan sekumpulan manusia yang memiliki pengalaman bersama, sekaligus digerakan oleh tradisi yang terbentuk dalam lintasan sejarah.

Keempat, solidaritas yang terbentuk di desa biasanya bersifat mekanis yang kental dengan nuansa kolektivistik. Dalam bentuk solidaritas semacam itu, masyarakat desa menjadi suatu kategori subyektif tersendiri yang diikat oleh rasa kebersamaan dan saling topang.

Masyarakat desa sebagai aktor dapat bertindak sebagaimana individu. Dalam cara pandang modernisasi pembangunan model orde baru, sifat-sifat desa yang semacam itu dilihat sebagai penghambat pembangunan

Dengan sebaliknya dalam UU desa , sifat-sifat itu justru diakui dan diterima sebagai fakta obyektif yang memiliki potensi tersendiri bagi kemajuan masyarakat desa termasuk dalam hal berdemokrasi.
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Demokrasi Untuk Rakyat. Bukan Ajang Adu Gengsi Elit. Rating: 5 Reviewed By: Cianjur post